Banyak
perilaku masyarakat di negeri ini dilakukan dengan spekulasi. Mereka
mencoba-coba melakukan sesuatu secara untung-untungan. Kalau berhasil tanpa
mendapat teguran, maka tindakannya diteruskan. Tindakan spekulasi dapat
diartikan sebagai sebuah pendapat atau dugaan yang berdasarkan kenyataan, tindakan yang bersifat untung-untungan.
Perilaku Salah
Jalan
raya dan sekitarnya biasa menjadi contoh yang dapat kita saksikan dalam kondisi
sehari-hari. Kita mulai dari perlintasan
yang ada traffic light (lampu
pengatur lalu lintas). Pada beberapa titik dapat kita amati betapa lampu pengatur
lalu lintas tidak dapat dijadikan sebagai patokan yang tepat memaknai warna
lampu tersebut.
Makna
dari lampu tersebut tidak dapat lagi diberi arti yang seharusnya dilaksanakan.
Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan, dan kuning berarti siap-siap untuk
berhenti atau jalan tergantung dari warna apa yang mendahuluinya.
Terkadang
kita berspekulasi mencoba menerobos jalan tanpa menghiraukan lagi lampu pengatur
lalu lintas. Merah tidak lagi berarti berhenti. Boleh saja nyala lampu merah,
tetapi kendaraan melaju terus tanpa berhenti, seperti yang terjadi di depan sebuah
kampus perguruan tinggi terbesar di kota ini. Kacau situasi perlalulintasan di
sini.
Beberapa
hari lalu ketika penulis akan menuju ke tempat lokakarya yang diadakan jurusan
Imu Komunikasi Universitas Hasanuddin, terjadi sebuah tabrakan akibat salah
satu pihak mengabaikan sinyal dari lampu pengatur lalu lintas.
Mungkin
akibat tindakan spekulasi yang tidak tepat akhirnya terjadi benturan di tengah
jalan ketika penulis baru saja melewati
perlintasan tersebut. Pengemudi bentor bersama penumpangnya terjungkal ke luar,
sedang pengendara motor ikut juga terpental ke aspal. Sama-sama mengandung
derita akibat lalai memaknai warna lampu pengatur lalu lintas.
Di
bilangan Urip Sumiharjo depan perkantoran tentara dan polisi kadang terjadi tindakan spekulasi yang sangat
berisiko tinggi. Ketika terjadi kemacetan dari satu sisi, maka pengemudi
kendaraan sepeda motor secara sadar paling berani melakukan tindakan spekulasi
melawan arus. Perkembangan kota telah membuat manusia di dalamnya selalu
diperhadapkan oleh tindakan di luar norma-norma yang ada.
Pembiaran
Mulanya
hanya satu. Lama-kelamaan bertambah banyak. Akhirnya sambung menyambung menjadi
satu kawasan (ibarat lagu saja). Trotoar yang dibangun untuk para pejalan kaki akhirnya
‘tergusur’ oleh munculnya bangunan yang
menjajakan aneka makanan dan aktivitas lainnya.
Kawasan
ini terletak di bagian timur mesjid Al Markas Jenderal M. Jusuf. Ini terjadi
akibat pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah kota, kecamatan, dan kelurahan.
Sebelum pemilihan gubernur yang lalu, kawasan ini sempat akan ditertibkan oleh
pemerintah kota.
Namun
ada perlawanan dari masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut. Padahal lahan
tersebut bukan peruntukannya. Tampaknya pemerintah kota kalah oleh sikap
dan perlawanan dari masyarakat pengguna lahan itu .
Entah
apa yang ada di kepala para ahli perencana
kota yang dijadikan staf ahli oleh walikota. Kota berkembang secara serampangan
dan tidak taat azas. Setiap lahan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lewat
spekulasi yang dibiarkan.
Sikap
spekulasi masyarakat banyak terjadi di mana-mana. Di kantor, di kampus, di
pasar, dan banyak tempat lainnya spekulasi berkembang dengan baik. Situasi yang
ada turut dimanfaatkan oleh para spekulan. Kasus-kasus yang banyak menyeret petinggi atau pejabat kita akibat cara-cara
spekulatif. Kalau tidak ketahuan, untung. Sebaliknya kalau ketahuan, semua bisa
diatur. Tahu sama tahulah. Dasar Spekulator !!! (abdul gafar)