Minggu, 06 Mei 2018

Tips Menulis Kreatif
Menulis diartikan sebagai “Kegiatan menuangkan gagasan, ide, pendapat, pengalaman, pengetahuan dalam bentuk tertulis untuk dikomunikasikan kepada publik atau orang banyak, melalui media massa- dalam haI ini media massa cetak, baik berupa Koran , tabloid, maupun majalah”. Menulis memerlukan keterampilan tersendiri. Tidak semua orang pernah melakukannya.
Produk tulisan yang dihasilkan tentunya harus memiliki bobot mendalam dan  ditulis sistematis dengan mempertimbangkan banyak aspek dan kaidah-kaidah tertentu.
Apa bedanya PENULIS dengan WARTAWAN ? Secara sederhana, semua wartawan (media cetak) adalah penulis, tetapi tidak semua penulis adalah wartawan.
Ruang lingkup penulis lebih luas dibanding wartawan. Kalau wartawan hanya mendasarkan produk tulisannya pada realitas faktual, seorang penulis lebih bebas menjelajah dengan kemampuan imajinatifnya.
Produk-produk yang dihasilkan wartawan disebut karya jurnalistik, maka produk tulisan yang dihasilkan penulis disebut karya nonjurnalistik. Karya-karya nonjurnalistik dibagi menjadi dua yakni fiksi dan nonfiksi. Jadi kurang tepat jika dikatakan bahwa penulis hanya menghasilkan produk-produk tulisan fiksi saja seperti cerpen, puisi, dan novel. Yang benar adalah penulis juga untuk orang-orang yang produktif menghasilkan karya nonfiksi seperti artikel opini, kolom, dan resensi.
Modal Utama
Modal dasar seorang penulis : intelektualitas, kepekaan, keberanian, ketekunan, dan kesabaran. Modal seorang Penulis adalah ‘kepekaan’ dan ‘sikap`kritis’ berhadapan dengan ‘teks kehidupan, entah teks yang tertulis maupun tidak tertulis. Seorang penulis harus sering bertanya, menyangsikan, mendekat, dan mengolah suatu ide dan peristiwa yang terekam dalam layar kesadarannya sehingga menghasilkan tulisan yang cerdas dan berbobot.
Menurut Pramoedya Ananta Toer : “Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan arus putaran sejarah”.
Bagaimana cara mendapatkan ide tulisan atau artikel agar dapat dimuat di surat kabar ?  Untuk menggali dan menumbuhkembangkan munculnya ide, inspirasi, atau gagasan untuk dijadikan bahan tulisan, kita harus punya minat yang tinggi dalam membaca.
Membaca apa ? Ya membaca apa saja. Karena dengan membaca kita akan menambah stok cakrawala pengetahuan. Sumber bacaan dapat diperoleh dari berbagai macam sumber. Selain yang tersurat , juga kita dapat membaca dari alam sekitar,  misalnya tentang gunung; hutan; laut, dan lain –lain.
Berlatih Terus
Penulis adalah profesi yang unik dan membutuhkan pemikiran yang konsisten dan perjuangan keras. Kalau Anda ingin menjadi seorang novelis, belajarlah dulu menjadi seorang penulis cerpen. Kalau Anda ingin menjadi seorang kolumnis, belajarlah dulu menjadi seorang penulis artikel. Kalau Anda ingin menjadi seorang penulis buku, belajarlah menjadi penulis apa saja. Yang penting keterampilan Anda dalam menuangkan gagasan bisa tertuang secara sistematis dan fasih dalam menggunakan bahasa jurnalistik.
Ada orang yang mempunyai sejumlah prestasi yang hebat dalam menghasilkan jurnal dan penelitian yang ilmiah. Namun orang tersebut tidak mampu menulis untuk konsumsi media cetak. Mengapa demikian ? Jawabnya amat sederhana. Yaitu orang tersebut tidak memahami bahasa jurnalistik yang sederhana sehingga ia gagal dalam mempresentasikan pemikirannya kepada publik.
Karya tulis dalam bentuk apapun lahir dari ide. Ide merupakan pokok pikiran sebuah karya tulis, karya sastra, maupun karya jurnalistik. Seseorang biasanya tidak mampu menulis atau melanjutkan karya tulisnya dengan baik karena menganggap telah kehabisan stok ide. Apakah benar seperti itu ?
Seorang penulis artikel selalu dituntut untuk menyajikan kupasan tulisan yang selalu bersifat aktual. Hal ini dibutuhkan kreativitas dari penulis agar selalu memunculkan tulisan-tulisan yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat.
Stephen King mengatakan bahwa : “If you want to be a writer, you must do two things above all others : read a lot and write a lot”.
Selanjutnya Emha Ainun Najib mengatakan bahwa tipologi manusia ada empat yaitu : pertama, orang yang sedikit tahu dalam sedikit hal; kedua, orang yang banyak tahu dalam sedikit hal; ketiga, orang yang sedikit tahu dalam banyak hal; keempat, orang yang banyak tahu dalam banyak hal. Lalu diri kita berada pada posisi mana ?
Menulis adalah  bagaimana mengasah pikiran kita.   Robert Pinkert dalam The Truth English mengatakan bahwa : “writing is thinking. If you can’t think, you can’t write. Learning to write is learning to think”.
Seorang penulis harus rajin membaca. Hayatilah pekerjaan menulis sebagai profesi yang menggairahkan dan  menggembirakan.
Dengan menulis, ide-ide kita bisa dikenal khalayak luas. Dengan menulis, kita bisa mandiri. Dengan menulis, akal budi, hati nurani, dan  jiwa kita bisa ‘menari’ secara bebas.
Menulis adalah proses latihan dan mencoba terus-menerus. Kemampuan menulis ibaratnya juga seperti mata pisau, agar tidak berkarat mata pisau itu harus dipakai dan diasah terus-menerus.
Proses menulis merupakan pergumulan yang intens dan  total. Seorang penulis yang baik akan berjuang sekuat tenaga untuk mencari ide dan memilih kata-kata terbaik yang bisa dihasilkan dan dipilihnya. Kalimat dan bahasa seorang penulis yang ideal seharusnya jernih, lugas, padat, enak, dan komunikatif.
Agar menjadi penulis yang besar dan berpengaruh, dalam menulis kita harus dapat menemukan eksistensi, ciri khas, dan kekuatan kita sendiri, baik dari segi aspek bobot/isi maupun pengucapannya (teknik penuangan bahasanya).
Berlatih adalah modal yang paling mendasar untuk sukses menjadi penulis profesional. Apalagi bagi penulis pemula, teori adalah hanya sekedar penunjang dan berlatih adalah pokok.Memahami teori namun tidak pernah berlatih, seseorang tidak akan pernah menjadi penulis. Sama halnya dengan seorang yang ahli teori renang, namun tidak pernah menyentuh air, maka tidak akan pernah menjadi perenang.
Pramoedya Ananta Toer menyampaikan resep agar membiasakan menulis dengan mengatakan bahwa : “Semua harus ditulis. Apapun . Jangan takut untuk tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna”.
==========
Abdul Gafar, Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar


Kamis, 31 Oktober 2013

Bangsa Spekulan

Banyak perilaku masyarakat di negeri ini dilakukan dengan spekulasi. Mereka mencoba-coba melakukan sesuatu secara untung-untungan. Kalau berhasil tanpa mendapat teguran, maka tindakannya diteruskan. Tindakan spekulasi dapat diartikan  sebagai sebuah  pendapat atau dugaan yang  berdasarkan kenyataan, tindakan yang bersifat untung-untungan.

Perilaku Salah
Jalan raya dan sekitarnya biasa menjadi contoh yang dapat kita saksikan dalam kondisi sehari-hari. Kita mulai  dari perlintasan yang ada traffic light (lampu pengatur lalu lintas). Pada beberapa titik dapat kita amati betapa lampu pengatur lalu lintas tidak dapat dijadikan sebagai patokan yang tepat memaknai warna lampu tersebut.

Makna dari lampu tersebut tidak dapat lagi diberi arti yang seharusnya dilaksanakan. Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan, dan kuning berarti siap-siap untuk berhenti atau jalan tergantung dari warna apa yang mendahuluinya.

Terkadang kita berspekulasi mencoba menerobos jalan tanpa menghiraukan lagi lampu pengatur lalu lintas. Merah tidak lagi berarti berhenti. Boleh saja nyala lampu merah, tetapi kendaraan melaju terus tanpa berhenti, seperti yang terjadi di depan sebuah kampus perguruan tinggi terbesar di kota ini. Kacau situasi perlalulintasan di sini.

Beberapa hari lalu ketika penulis akan menuju ke tempat lokakarya yang diadakan jurusan Imu Komunikasi Universitas Hasanuddin, terjadi sebuah tabrakan akibat salah satu pihak mengabaikan sinyal dari lampu pengatur lalu lintas.

Mungkin akibat tindakan spekulasi yang tidak tepat akhirnya terjadi benturan di tengah jalan ketika penulis baru saja  melewati perlintasan tersebut. Pengemudi bentor bersama penumpangnya terjungkal ke luar, sedang pengendara motor ikut juga terpental ke aspal. Sama-sama mengandung derita akibat lalai memaknai warna lampu pengatur lalu lintas.

Di bilangan Urip Sumiharjo depan perkantoran tentara dan polisi kadang  terjadi tindakan spekulasi yang sangat berisiko tinggi. Ketika terjadi kemacetan dari satu sisi, maka pengemudi kendaraan sepeda motor secara sadar paling berani melakukan tindakan spekulasi melawan arus. Perkembangan kota telah membuat manusia di dalamnya selalu diperhadapkan oleh tindakan di luar norma-norma yang ada.

Pembiaran
Mulanya hanya satu. Lama-kelamaan bertambah banyak. Akhirnya sambung menyambung menjadi satu kawasan (ibarat lagu saja). Trotoar yang dibangun untuk para pejalan kaki akhirnya ‘tergusur’ oleh munculnya  bangunan yang menjajakan aneka makanan dan aktivitas lainnya.  

Kawasan ini terletak di bagian timur mesjid Al Markas Jenderal M. Jusuf. Ini terjadi akibat pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah kota, kecamatan, dan kelurahan. Sebelum pemilihan gubernur yang lalu, kawasan ini sempat akan ditertibkan oleh pemerintah kota.

Namun ada perlawanan dari masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut. Padahal  lahan  tersebut bukan peruntukannya. Tampaknya pemerintah kota kalah oleh sikap dan perlawanan dari masyarakat pengguna lahan itu .

Entah apa yang ada di kepala  para ahli perencana kota yang dijadikan staf ahli oleh  walikota. Kota berkembang secara serampangan dan tidak taat azas. Setiap lahan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lewat spekulasi yang dibiarkan.

Sikap spekulasi masyarakat banyak terjadi di mana-mana. Di kantor, di kampus, di pasar, dan banyak tempat lainnya spekulasi berkembang dengan baik. Situasi yang ada turut dimanfaatkan oleh para spekulan. Kasus-kasus yang banyak  menyeret petinggi atau pejabat kita akibat cara-cara spekulatif. Kalau tidak ketahuan, untung. Sebaliknya kalau ketahuan, semua bisa diatur. Tahu sama tahulah. Dasar Spekulator !!! (abdul gafar)

Gadis Kecil Penjaja Koran

Shalat  jumat baru saja usai berlangsung di mesjid Al Markas Jenderal. M. Jusuf. Ketika menyusuri pelataran sisi kanan dari mesjid di lantai dasar terdengar ada isak tangis. Tampaknya suara tersebut berasal dari seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahunan. Sambil menangis sesenggukan, air matanya terus meleleh membasahi pipinya. Rambutnya terlihat agak awut-awutan karena dicakar-cakar dengan warna sedikit kekuningan.

Ketika penulis mendekat ke posisi anak tersebut, ia terus menangis sambil terguncang tanpa kemampuan melawan. Rupanya sang gadis kecil ini sedang menjajakan koran yang terbit hari itu. Apa yang menyebabkan sehingga ia menangis sesenggukan ?  Koran yang dijajakannya dibuang oleh seorang anak lelaki usia remaja awal berambut pirang ke tempat sampah.

Dalam linangan air mata, sang gadis kecil ini kembali memungut koran yang telah dicampakkan oleh anak lelaki yang berambut pirang tadi. Jari-jari kecilnya terus merapikan kembali koran yang telah dipungut dari tong sampah. Linangan air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Setelah tampak rapi, ia segera meninggalkan kerumunan  orang yang melihatnya. Seorang petugas mesjid yang menegur perilaku remaja lelaki mendapat perlawanan. Sang remaja ini tam paknya termasuk anak pemberani. Buktinya ia berani  ‘bertengkar’ dan menantang petugas keamanan mesjid al markas.

Anak siapakah mereka ini ? Sang gadis kecil ini telah berani memerankan diri sebagai pekerja keras di usianya yang masih sangat belia. Pasti ia berasal dari keluarga yang secara ekonomi jauh dari kecukupan. Alangkah besarnya pengorbanan sang gadis kecil ini untuk menopang kehidupan ekonomi keluarganya. 

Untung yang akan diraupnya dari hasil menjajakan korannya pastilah tidak seberapa. Keluarga dan negara mengabaikan hak hidup sang gadis kecil ini untuk menikmati kebebasan tanpa harus bekerja seperti yang dilakoninya. Adakah ia masih sekolah atau sudah putus sekolah ? Entahlah ! Tetapi melihat penampilannya, tampaknya ia tidak lagi bersekolah. Kondisi ekonomi telah memaksa dirinya menjadi seorang pekerja yang mestinya dilindungi oleh undang-undang.

Dilindungi undang-undang
Anak ini dalam kehidupan kenegaraan kita mestinya mendapat  perlindungan dari perlakuan yang dapat merusak harkat dan martabat kemanusiaannya. Ia telah diperlakukan oleh sesamanya anak-anak secara berlebihan. Sebagai penjaja koran, ia terancam berjualan karena korannya dibuang ke tempat sampah oleh ‘preman’ kecil.

Dalam undang-undang perlindungan anak No.23 tahun 2002 Bab III pasal 13 ayat 1 antara lain bahwa setiap anak  berhak mendapat perlindungan dari perlakuan “kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakdilan, dan perlakuan salah lainnya”.

Sebaliknya pada pasal 19 terdapat kewajiban yang ada pada anak antara lain : “menghormati orang tua, wali, guru, mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman, melaksanakan etika dan akhlak mulia”.

Lalu bagaimana dengan perlakuan atas sang gadis kecil penjaja koran ini ? Haknya tercerabut dalam kenyataan. Ia telah ‘dilecehkan’ oleh sang preman kecil dengan perlakuan sewenang-wenang. Anak siapakah preman kecil ini ?

Sang ustadz yang berceramah jumat mengatakan bahwa seorang muslim harus jauh dari sikap dendam, marah, dan sedih. Pertanyaan  kita adalah mampukah ia melaksanakan apa kata sang ustadz tersebut ? Kita berharap dan mendoakan agar preman kecil kembali ke jalan yang benar sedang  sang gadis kecil ini mampu menjadi seorang yang tangguh dalam mengarungi kehidupan yang ada di depannya. (abdul gafar)





Catatan: tulisan di atas terbit di rubrik Perspektif surat kabar Tribun Timur.